Tampak – 009

Dua hari lalu badai salju datang. Saat itu John Marco yang menemani perjalanan. Lumayan kuat badai yang menghantam. Baru sekitar 5 jam ketebalan salju sudah bisa menutupi John Marco dari pandangan.

Tapi, karena badai sedang menuju puncaknya, maka kondisi masih okelah. Jalanan sudah tertutup salju tapi kondisi belum menjadi buruk atau jalanan menjadi licin. Jadi John Marco masih santai melangkah.

Sehari berikutnya, semua aktivitas sekolah dan kantor dihentikan. Badai sudah berakhir tetapi akibatnya baru dirasakan. Ketebalan salju di sekitar rumah mencapai 30-40 cm.

Hari itu Borsa memulai tugasnya, setelah hampir setahun istirahat. Yup, hampir setahun Borsa nggak bertugas menemani perjalanan, karena memang ia dikhususkan menemani pada kondisi winter. Hari ini ia ditugasi menemani untuk bermain-main di halaman belakang rumah.

Tumpukan salju yang menenggelamkan Borsa menjadi ujian hari pertama come back bermain di alam luar. Bagaimana tugas Borsa hari itu?

Tak dinyana, Borsa yang telah semakin tua, mampu meredam ketajaman suhu yang berkisar minus sembilan-an Celsius. Ditambahi lagi dengan kedalaman salju, maka tekanan akan meresapnya dingin semakin besar. Tapi hebat, Borsa, yang kelahiran Bandung itu, mampu meredamnya dengan baik. Tidak ada rasa dingin ataupun air yang meresap masuk, walau saat berjalan Borsa tenggelam dalam lapisan salju yang dalam.

Hebat, Borsa! 🙂

Tampak – 007

Hampir dua minggu John Marco rada santai kesehariannya. Bukan santai dalam hal jarak tempuh, tapi santai karena kondisi jalan yang baik. Salju dan es menghilang dari path way sehingga tiada takut meleset atau kedinginan.

Tapi cuaca segera berubah lagi, sekitar 4 hari terakhir salju kembali hadir, dan tentunya lapisan es pun ada dimana-mana. Langkah John Marco menjadi lambat dan lebih berhati-hati. Yang nggak nahan adalah dingin, karena John Marco ini diciptakan bukan untuk wilayah dingin ekstrim seperti disini.

Jika kondisi semakin memburuk dalam minggu depan, maka tampaknya John Marco akan digantikan oleh pemain lawas, yaitu Borsa. Borsa telah pengalaman mengarungi satu setengah kali musim dingin ekstrim dan mampu menjalankan tugas sebagai teman seperjalanan dengan cukup bagus.

Mengenang saat mendapatkan Borsa adalah mengenang “kebetulan ketemu” saat mencari amunisi untuk berjalan di daerah ekstrim dingin. Waktu itu sasaran utama adalah Dr. Martens, atau sering dipanggil dengan Docmar. Pencarian dengan spesifikasi khusus, antara lain: bentuk boots, tahan dingin dari luar atau dapat menahan panas dari dalam, mempunyai grip yang layak (antisipasi permukaan salju/es), dan harga terjangkau.

Dari pencarian ngubek-ngubek Jakarta, ternyata tiada Docmar yang memenuhi spesifikasi yang diinginkan, terutama syarat terakhir yaitu harga terjangkau. Semua Docmar yang ditemui berharga 1 -2 Juta Rupiah. Jauh dari anggaran yang tersedia… 😉

Sampai akhirnya bertemu dengan Borsa di sebuah swalayan di Bogor. Borsa adalah kelahiran Bandung, kata mbak penjualnya. Walau harus mengurangi ekspektasi tinggi dalam hal spesifikasi, tapi semua masih masuk dalam toleransi. Apalagi saat itu akhir tahun dengan diskon yang cukup gede. Harga asli sekitar 600 ribuan, bisa menjadi harga akhir sekitar empat ratusan. Okelah banget nih 😀

Ternyata oh ternyata, Borsa melebihi dari perkiraan semula, dari sisi kekuatannya. Sangat tangguh dalam kondisi ekstrim suhu hingga seputaran minus 30 Celsius. Tentunya ujung jari kaki tetap sangat kedinginan, tetapi memang nggak ada tampak kaki yang mempunyai heater di dalamnya kan? 😀

Dibawa jalan 2-3 Km per hari, dengan kondisi jalan salju dan es masih kuat tanpa cacat. Baik cacat body maupun cacat asesorisnya.