Tampak – 004

Satu setengah tahun lalu saya berjumpa dengan Skechers. Perjumpaan ini di Yogya Junction, Bogor, saat persiapan kembali ke tanah rantau. Sebenarnya tampak kaki saat ini masih bagus dan kuat. Tetapi karena memerlukan yang ringan dan gampang dipakai, maka mencarilah saya di department store ini.

Skechers langsung terpilih karena bentuknya cocok dan, tentunya, harga terjangkau dompet. Dibawah 200 ribu rupiah dengan bonus talinya dan kotak pembawanya. 😀

Penghematan yang super harus diterapkan dalam segala hal. Semakin hemat maka semakin banyak yang bisa dimanfaatkan untuk pengadaan lainnya 🙂

Skechers enak dibawa jalan, ringan. Walau kelahiran di Tiongkok, Skechers kelihatannya cukup kuatlah… Setidaknya harapan seperti itu.

Sesampai di tanah rantau, Skechers menjadi andalan teman perjalanan. Apalagi saat itu musim panas, jadi tiada halangan berarti saat jalan bareng Skechers.

Skechers teruji kuat saat untuk berjalan kaki antargedung. Dari gedung kantor ke gedung kampus sekitar 2 km, antargedung kampus juga lumayan, ada mungkin 1 km. Jadi, dalam sehari, perjalanan bisa mencapai 4-5 km bersama Skechers. Nggak ada masalah berarti.

Skechers enak diajak melalui trotoar semen, rerumputan, atau aspal. Tidak ada trek tanah, memang. Apalagi hanya batu-batuan, nggak ada. Jadi rada aman bagi kesehatan Skechers. Kalaupun lewat batu-batuan maka agak repot. Karena bawahnya tipis, jika batuan maka nggak nyaman terasa ditelapak.

Untuk naik turun bus, jalan ke Mal, naik turun lantai gedung kampus, nggak masalah bagi Skechers. Keringanannya menjadi andalan dalam menemani perjalanan.

🙂

Advertisements

Tampak – 003

Mengawali Januari 2016, saya berjalan bersama John Marco. Sejak hari akhir tahun 2015 hingga siang ini salju terus turun. Semua permukaan telah memutih. Begitupula jalan depan rumah dan juga dimana kaki melangkah di luar ruang. Hanya ada salju atau lapisan es.

JM menemani saya berjalan ke masjid untuk sholat Jumat. Lumayanlah, suhu udara sekitar minus lima masih bisa teratasi oleh JM.

Ohya, teringat kemarin mau cerita apa. Cerita tentang pertemuan dengan JM alias John Marco.

Saya merasa nggak pernah ketemu JM sebelumnya. Artinya, kemungkinan terbesar JM adalah warisan. Warisan adalah peninggalan rekan-rekan yang telah kembali ke tanah air. Biasanya, karena bawaan mereka terbatas, maka sebagian barang akan ditinggal dan diberikan pada mereka yang memerlukan. Atau dititipkan untuk didonasikan ke berbagai tempat donasi sosial di sini.

Saya curiga, JM adalah bagian dari warisan itu. Entah dari siapa. Mengingat banyak sudah yang pulang dan meninggalkan/menitipkan barang-barangnya.

JM mempunyai ukuran 41, bukan ukuran kaki saya. Ukuran kaki saya adalah 43 (jika di tanah air) dan 42 (saat di rantau sini). Kenapa beda? Nggak tau juga ya, semoga bukan karena kebiasaan mark-up para pembuatnya, yang mestinya 42 menjadi 43… 😀

Pertama jalan bersama JM, terasa aneh diujung kaki. Jejari rada merunduk dan meringkel. Bukan karena kedinginan tapi karena memang ruangnya nggak cukup. Terutama jari telunjuk dan tengah yang lebih panjang dari lainnya.

Tapi, tak apalah. Yang penting JM cukup pantas dipakai diudara yang semakin dingin, dan juga menghindari menyerapnya dingin atau basah dari lapisan salju yang dilalui.

Keterbatasan ruang bagi jejari tentunya ada imbasnya juga. Beberapa hari bersama maka lecetlah jari telunjuk ane… 😀

Tampak – 002

Hari terakhir tahun 2015, menjelang siang saya menuju kantor bersama John Marco. Suhu udara hari ini dibawah nol, mulai menjadi terbiasa sih, memang sudah muchsin-nya…

Pertemanan dengan John Marco (sebut saja JM) ini rada aneh. Sekitar sebulan lalu, lebih sedikit, saya melihat JM menunggu di ruang gudang. Kebetulan rekan saya sebelumnya, duh namanya lupa, sudah sulit diajak berjalan bersama saat cuaca mulai tajam dinginnya. Ia tidak enjoy lagi untuk menikmati jalan-jalan panjang dari rumah menuju kampus dan menuju kantor.

Apalagi mulai November lalu hujan masih sering datang, dan ia sudah tidak kuat lagi menahan beban berat perjalanan sehari-hari. Setidaknya, ada bagiannya yang sudah terkoyak dibawah, menyebabkan air masuk membasahi dan membuat lembab kaki.

Nggak enak ‘kan kalau kaki lembab, apalagi dingiiin.

Sementara itu ia juga sudah tak mampu lagi menahan perekat bagian depan, sehingga ada beberapa bagiannya yang membuka sendiri. Agak kaget juga, saat jalan bersamanya mengunjungi rekan-rekan tamu di suatu Hotel mewah, dan ia tak kuat menahan perekat depannya. Mangap-lah ia… Entahlah, adakah yang sempat melihat kejadian itu. Yang pasti ia sudah kelelahan menahan beban dan perjalanan yang jauh.

Namanya siapa ya… kok saya masih terlupa, maafkan teman…

Ohya, Skechers. Bentuknya kets warna hitam dan ringan dan bertali. Dilahirkan di negeri Tiongkok.

Kembali ke perjalanan hari ini bersama JM. Tadi mau cerita apa ya… hadeuh lufaaa… 😀

Tampak – 001

Selamat pagi dunia.

Hari ini saya berjalan bersama John Marco melintasi trotoar jalan yang sebagian masih ditutupi salju tebal. Baru tiga hari ini salju datang lagi dengan lebatnya setelah yang pertama hadir saat minggu akhir November lalu. Keduanya hadir dengan cara yang sama, yaitu menunggangi badai yang melanda sebagian besar daerah sini.

Semestinya, trotoar itu bersih dari salju atau apapun yang dapat menghalangi atau membuat pejalan kaki repot jalannya. Para pemilik properti yang punya jalan setapak di depan halamannya mestinya segera membersihkan segala material, termasuk salju, dari jalur publik itu. Itu peraturan.

Biasanya juga begitu, walau yah nggak bersih-bersih amat.

Kali ini beda, hari ketiga sejak kedatangan salju yang cukup tebal, trotoar masih banyak yang tidak disentuh sama sekali. Mungkin pemilik halaman enggan keluar karena masih dalam suasana libur akhir tahun. Eh, mungkin juga, mereka sedang liburan winter break mencari kehangatan sambil membuang penat di daerah selatan. Padahal, sebagian daerah selatan sedang disambangi oleh beragam tornado… Di Dallas, Texas, belasan penduduk meninggal terakibat tornado beberapa hari lalu.

Semoga mereka semua selamat, karena kalau tidak, bakal repot lagi. Siapa yang akan membersihkan trotoar ini…

Baiklah, kembali ke perjalanan bersama John Marco.

Menghindari kepeleset di trotoar yang nggak bersih, maka saya memilih menyeberang jalan. Kenapa? Karena trotoar di seberang terlihat bersih sekali dari halang rintang. Tiada salju atau es yang menutupinya. Para petugas pembersih pastilah sudah bangun sejak sebelum waktu sholat Subuh untuk bekerja. Waktu Subuh kali ini sekitar jam 6:44. Dengan gaji delapan dollar perjam, pastilah mereka akan dengan giat bangun pagi untuk membersihkan semua trotoar di wilayah kampus.

Ya, trotoar seberang adalah bagian dari wilayah kampus, sehingga kebersihannya pasti terjamin. Dan kondisi itu menjadi pilihan terbaik bagi pejalan kaki seperti saya.

Menyeberanglah saya dan John Marco, sedikit menginjak salju di pembatas jalan tak papalah, yang penting segera sampai trotoar nan bersih itu.